Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Parigi Moutong

Irigasi Jebol di Parigi Moutong, 80 Hektare Sawah Petani Tak Bisa Ditanami

×

Irigasi Jebol di Parigi Moutong, 80 Hektare Sawah Petani Tak Bisa Ditanami

Sebarkan artikel ini
Saluran irigasi kering sejak pertengahan 2024, akibat saluran irigasi utama jebol di terjang banjir, di Desa Tombi, Kecamatan Ampibabo. (Foto – Istimewah).

Parigi Moutong, PUSATWARTA.ID–Sebanyak 80 hektare lahan sawah milik petani di Desa Tombi, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, tidak bisa ditanami sejak pertengahan 2024 akibat saluran irigasi utama yang jebol diterjang banjir.

Kerusakan saluran irigasi yang bersumber dari Sungai Tombi itu telah berlangsung lebih dari satu tahun tanpa perbaikan.

Petani setempat menyebut jebolnya saluran irigasi diperparah oleh aktivitas alat berat yang diduga terkait pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah hulu.

Baca lainnya :  Hari Keempat Pencarian Korban Longsor di Parigi Moutong, Empat Orang Masih Hilang

“Air tidak bisa lagi masuk ke sawah karena pintu irigasi utama sudah jebol dan bantal gulingnya rata. Sudah lebih dari setahun tidak ada perbaikan,” ujar Zainal Abidin, petani dari Kelompok Tani Songulara, Kamis (25/7/2025).

Zainal menjelaskan, ia memiliki tiga hektare sawah yang kini tidak bisa ditanami padi. Dalam kondisi normal, satu hektare sawah mampu menghasilkan dua ton beras setiap musim panen.

Dengan kondisi irigasi rusak kata dia, diperkirakan potensi kehilangan produksi mencapai 160 ton beras per musim tanam dari total 80 hektare sawah.

Baca lainnya :  Bupati dan Wabup Parigi Moutong Pimpin Rapat Kerja Perdana, Fokus pada 12 Program Strategis

Menurutnya, sebagian petani akhirnya memilih menanam tanaman kering seperti nilam dan jagung, yang tidak terlalu bergantung pada irigasi.

Namun tak sedikit pula yang memilih merantau ke daerah lain karena tidak lagi dapat mengandalkan pertanian sebagai sumber penghidupan.

“Kami sudah beberapa kali menyampaikan ke pemerintah desa, tapi belum ada tindak lanjut. Alasannya waktu itu katanya tunggu pelantikan presiden dulu, baru akan diurus. Sekarang sudah pelantikan pun belum ada kabar,” ujarnya.

Baca lainnya :  Api Nyaris Jalar ke Permukiman, Kebakaran Lahan Baliara Dipicu Pembakaran Serbuk Kayu

Selain berdampak pada pertanian, kerusakan saluran irigasi juga memicu krisis air bersih. Warga terpaksa menggali sumur bor hingga kedalaman 30 sampai 40 meter atau menampung air hujan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan memasak.

Zainal dan warga Desa Tombi berharap Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong serta instansi terkait segera turun tangan memperbaiki irigasi dan menghentikan aktivitas pertambangan ilegal di wilayah hulu Sungai Tombi.

Example 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *