
Parigi Moutong,PUSATWARTA.ID — Ketua Utama PB Alkhairaat Pusat Palu, Habib Alwi bin Saggaf Al-Jufri, hadir memberikan tausiyah penuh hikmah dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sekaligus Tarhib Ramadan 1447 H.
Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong, Kamis (29/1/2026).
Dalam ceramahnya, Habib Alwi menjelaskan bahwa Isra Mi’raj merupakan perjalanan spiritual paling agung dalam sejarah umat manusia, sebuah kemuliaan yang Allah SWT anugerahkan khusus kepada Nabi Muhammad SAW, yang bahkan tidak diberikan kepada malaikat terdekat sekalipun.
Peristiwa ini menegaskan posisi Rasulullah sebagai hamba Allah yang paling sempurna.
Habib Alwi mengajak jamaah merenungi makna ayat pertama Surah Al-Isra yang diawali dengan kalimat “Subhāna”, sebagai bentuk penyucian Allah dari segala keterbatasan sifat makhluk.
Menurutnya, segala sesuatu yang akan disampaikan setelah kalimat “Subhāna” adalah peristiwa luar biasa yang tidak dapat diukur dengan logika manusia semata.
Ia menjelaskan bahwa keterbatasan manusia dalam melihat, mendengar, dan bergerak selalu bergantung pada alat, jarak, dan waktu.
Sementara itu, Allah SWT tidak terikat oleh ruang dan waktu. Karena itu, perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha dalam satu malam bukanlah hal yang mustahil bagi Allah.
Habib Alwi juga menyinggung penolakan kaum Quraisy yang mengingkari Isra Mi’raj karena mengukurnya dengan kemampuan manusia dan sarana pada zamannya, seperti unta yang membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Ia mengibaratkan dengan perbedaan kecepatan zaman modern, berjalan kaki, kendaraan, hingga pesawat, sebagai gambaran bahwa perbedaan sarana menentukan waktu tempuh, apalagi jika yang memperjalankan adalah Allah SWT.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Allah menyebut Rasulullah dalam ayat Isra Mi’raj dengan kata “hamba-Nya”, bukan dengan gelar lain, karena derajat tertinggi manusia di sisi Allah adalah sebagai hamba yang taat sepenuhnya.
Habib Alwi juga mengulas latar belakang terjadinya peristiwa Isra Mi’raj, yang berlangsung di tengah tekanan berat dakwah Rasulullah SAW.
Dakwah tauhid yang menyeru manusia meninggalkan penyembahan berhala menimbulkan kemarahan kaum Quraisy, bahkan mendorong mereka menekan Nabi melalui pamannya agar menghentikan dakwah tersebut.
Melalui peristiwa Isra Mi’raj, Allah SWT menghibur dan menguatkan Rasulullah SAW, sekaligus menegaskan bahwa salat lima waktu adalah tiang agama dan hadiah terbesar bagi umat Islam.
Pada kesempatan itu, Habib juga mengajak kepada umat Islam untuk menjadikan momentum Isra Mi’raj dan Tarhib Ramadan sebagai sarana memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas salat, serta memperkokoh penghambaan kepada Allah SWT.
Penulis Berita : Wad
Editor : Wady
















