
Parigi Moutong, PUSATWARTA.ID — Pengabdian di dunia pendidikan tidak selalu lahir dari fasilitas yang lengkap. Bagi Ustadz H. Abd. Djalil G. Bua dan almarhumah Ustadzah Hj. Fauziah Ismail, pendidikan justru menjadi jalan panjang untuk mengabdi kepada masyarakat.
Keduanya mengenal dunia pendidikan dan nilai-nilai pengabdian sejak menempuh pendidikan di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) dan Muallimin Alkhairaat Palu, Sulawesi Tengah.
Di lingkungan pendidikan Alkhairaat, keduanya tidak hanya mempelajari fikih, tafsir, hadis dan ilmu agama lainnya, tetapi juga memperoleh pemahaman bahwa ilmu harus diamalkan dan dibagikan kepada masyarakat.
Nilai tersebut kemudian diwujudkan Abd. Djalil ketika mulai mengajar di Madrasah Alkhairaat Desa Dolago pada 10 Juni 1972.
Saat itu, kondisi pendidikan madrasah di Dolago masih jauh dari memadai. Fasilitas terbatas, ruang belajar sederhana dan berbagai kebutuhan pendidikan belum sepenuhnya tersedia.
Namun keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk mempertahankan keberadaan madrasah.
Bagi warga, madrasah menjadi tempat penting untuk membekali anak-anak dengan ilmu agama, pengetahuan sekaligus akhlak.Di tengah kondisi itulah Abd. Djalil memulai pengabdiannya sebagai guru.
Setahun kemudian, pada 1973, perjalanan pengabdian tersebut semakin lengkap setelah Abd. Djalil menikahi Fauziah Ismail, perempuan asal Masigi, Parigi.
Sejak saat itu, kehidupan keduanya tidak dapat dipisahkan dari aktivitas pendidikan dan kehidupan masyarakat Dolago.
Sebagai pasangan yang sama-sama memiliki latar pendidikan Alkhairaat, keduanya turut menjaga keberlangsungan madrasah di tengah keterbatasan.
Namun kiprah Abd. Djalil bersama Alkhairaat tidak berhenti di Dolago.
Sejak 1 Januari 1971, ketika K.H. Moh. Sholeh ZA Damar datang ke Parigi sebagai utusan Pengurus Besar Alkhairaat Palu untuk mengajar di madrasah Alkhairaat, Abd. Djalil mulai mendampingi sang kyai.
Hubungan tersebut berlangsung selama puluhan tahun. Abd. Djalil hampir setiap hari berada di sisi K.H. Moh. Sholeh ZA Damar hingga kemudian dikenal sebagai “sekretaris abadi” sang guru.
Pengabdian itu berlangsung dari 1971 hingga 2006, sampai K.H. Moh. Sholeh ZA Damar wafat.
Sepeninggal sang kyai, Abd. Djalil kembali melanjutkan tugas mendampingi penerusnya, K.H. Makmur ZA Damar.
Kesetiaan tersebut kembali berlangsung hingga K.H. Makmur ZA Damar wafat pada 2010.
Dalam kesaksian Muhammad Nur Damar, kedekatan Abd. Djalil dengan K.H. Makmur begitu kuat. Ia menggambarkan Abd. Djalil seperti bayangan yang selalu berada di dekat sang kyai dalam menjalankan aktivitasnya.
Dua sosok guru yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Abd. Djalil telah berpulang. Namun nilai pengabdian yang mereka wariskan tidak ikut berhenti.
Abd. Djalil tetap berada di lingkungan Alkhairaat dan meneruskan pengabdian yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Bagi keluarga dan masyarakat, perjalanan Abd. Djalil bersama almarhumah Fauziah bukan sekadar kisah seorang guru dan istrinya.
Lebih dari itu, keduanya meninggalkan jejak tentang bagaimana pendidikan, keteladanan dan pengabdian dapat dirawat lintas generasi.
Dari ruang-ruang madrasah yang sederhana di Dolago hingga perjalanan panjang mendampingi para kyai Alkhairaat, pengabdian keduanya menjadi bagian dari sejarah pendidikan keagamaan di Parigi Moutong.
Jejak itu kini tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga menjadi warisan nilai bagi generasi berikutnya: bahwa ilmu akan memiliki makna ketika digunakan untuk mengabdi dan memberi manfaat bagi sesama.
















