Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Pendidikan

TBM Sou Mpelava Lestarikan Bahasa Kaili Tara Lewat Literasi

×

TBM Sou Mpelava Lestarikan Bahasa Kaili Tara Lewat Literasi

Sebarkan artikel ini
Syilva Muslimah pendiri TBM Sou Mpelava (empat dari kanan) foto bersama peserta dalam festival literasi, berlangasung di halaman gedung pelayanan perpustakaan dan kearsipan Kabupaten Parigi Moutong, Kamis (29/10/2026). Foto : Eli.

Parigi Moutong, PUSATWARTA.ID — Empat anak binaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sou Mpelava membawakan cerita anak berbahasa Kaili Tara dalam Festival Literasi Parigi Moutong 2026, Kamis (29/10/2026) malam.

Penampilan tersebut menjadi upaya mengenalkan bahasa daerah kepada generasi muda melalui kegiatan membaca nyaring.

Keempat anak itu tampil membacakan dua buku cerita dwibahasa yang memadukan bahasa Kaili Tara dan Bahasa Indonesia.

Mereka adalah Rania Khumaira Azzahra, Muhammad Abizar, Faqiha Fasihatunnisa, dan Muhamad Taufik Ajiparo.

Rania dan Abizar membawakan cerita Nemo Malau, Bogi! yang berarti Jangan Pergi, Bogi!. Sementara Faqiha dan Taufik tampil dengan cerita Nojagai Toe atau Menjaga Eboni.

Baca lainnya :  PAUD Jadi Fondasi Wajib Belajar 13 Tahun di Parigi Moutong

Kedua buku tersebut ditulis oleh Syilva Muslimah, pendiri TBM Sou Mpelava. Para pembaca merupakan siswa SDN Inpres Pelawa dan SMP Muhammadiyah Parigi Tengah.

Syilva, yang akrab disapa Eva, mengatakan penggunaan buku cerita dwibahasa dalam festival literasi tersebut bertujuan memperkenalkan bahasa Kaili Tara sebagai salah satu bahasa daerah yang digunakan di Parigi Moutong.

Menurutnya, selama ini kegiatan membaca nyaring menggunakan buku dwibahasa sering kali hanya menampilkan teks Bahasa Indonesia.

Baca lainnya :  Reses di Kasimbar Palapi, Fathia Serap Aspirasi Petani dan Infrastruktur Desa

Padahal, keberadaan teks bahasa daerah dalam buku tersebut juga perlu diperkenalkan kepada masyarakat.

“Sayang sekali, saya khawatir orang tidak tahu bahwa buku ini ditulis dalam dua bahasa,” jelasnya.

Eva menilai buku cerita anak dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerah.

Melalui cerita yang dekat dengan dunia anak, pengenalan bahasa dapat dilakukan sekaligus menyampaikan pesan yang terkandung dalam cerita.

Dalam persiapannya, relawan TBM Sou Mpelava turut membantu anak-anak memahami konteks cerita agar mereka dapat membawakan isi buku dan menyampaikan pesannya dengan baik.

Baca lainnya :  HUT Pramuka ke-65 Ribuan Pramuka Kasimbar Nyalakan Obor, Teguhkan Semangat Swasembada Pangan

Eva mengapresiasi Dinas Perpustakaan Daerah yang telah memberikan kesempatan kepada komunitas literasi untuk tampil dalam Festival Literasi Parigi Moutong 2026.

Ia juga berterima kasih kepada masyarakat sekitar yang hadir menyaksikan penampilan anak-anak binaannya.

“Dukungan ini menjadi motivasi bagi relawan TBM Sou Mpelava untuk terus mengembangkan kegiatan literasi sekaligus memperkenalkan bahasa daerah kepada masyarakat,” ujarnya.

Example 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *