
Parigi Moutong, PUSATWARTA.ID – Kepedulian terhadap korban banjir di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, datang dari lingkungan pendidikan.
Keluarga besar SMK Kesehatan Terpadu Khatulistiwa Parigi menyalurkan bantuan sembako kepada 14 kepala keluarga (KK) yang masih bertahan di lokasi pengungsian, Sabtu (29/8/2026).
Bantuan tersebut merupakan hasil penggalangan dana yang dilakukan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) bersama Gerakan Pramuka SMK Kesehatan Terpadu Khatulistiwa Parigi selama satu hari.
Penyaluran bantuan dipimpin langsung Kepala SMK Kesehatan Terpadu Khatulistiwa Parigi, Yusril Mahendra Safrillah, didampingi wakil kepala sekolah, dewan guru, serta para siswa.
Yusril mengatakan, jumlah bantuan disesuaikan dengan data warga yang berada di tenda pengungsian.
“Jumlah bantuan sembako yang disalurkan sesuai dengan data yang ada dan kami salurkan langsung kepada warga terdampak di tenda pengungsian,” ujar Yusril.
Menurutnya, aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian keluarga besar sekolah, khususnya para siswa yang tergerak membantu masyarakat terdampak bencana.
“Ini merupakan bentuk kepedulian dari anak-anak kami, OSIS dan Pramuka, bersama keluarga besar sekolah untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang terdampak bencana,” katanya.
Bantuan kemudian diserahkan langsung kepada warga di tenda pengungsian untuk memastikan kebutuhan dasar tersebut diterima langsung oleh masyarakat yang terdampak.
Sejumlah warga penerima bantuan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada keluarga besar SMK Kesehatan Terpadu Khatulistiwa Parigi.
“Kepada Kepala Sekolah, dewan guru, dan siswa yang telah meringankan beban masyarakat di pengungsian, kami ucapkan terima kasih,” ujar warga penerima bantuan.
Tidak berhenti pada penyaluran bantuan, Yusril bersama rombongan kemudian meninjau langsung rumah salah satu korban banjir di Desa Avolua yang diketahui merupakan siswi SMK Kesehatan Terpadu Khatulistiwa Parigi.
Kunjungan tersebut menjadi bentuk perhatian pihak sekolah terhadap kondisi siswi sekaligus memastikan keadaan keluarganya setelah terdampak bencana banjir.
Kehadiran keluarga besar sekolah di tengah situasi bencana diharapkan dapat memberikan dukungan moral bagi warga terdampak, khususnya bagi siswi dan keluarganya.
Aksi tersebut menjadi wujud nyata bahwa kepedulian terhadap korban bencana tidak hanya datang dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan, tetapi juga tumbuh dari lingkungan pendidikan melalui keterlibatan langsung para siswa dalam kegiatan sosial.














