
Parigi Moutong, PUSATWARTA.ID — Anggota Kampung Siaga Bencana (KSB) Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, tidak hanya menerima pembekalan teori, tetapi juga langsung mengikuti praktik dan simulasi penanggulangan bencana di halaman Kantor Camat Torue, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi rangkaian hari keempat sekaligus penutupan pembentukan KSB Kecamatan Torue, setelah sebelumnya dikukuhkan oleh Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase.
Selama empat hari, anggota KSB mendapat sosialisasi dan pembekalan dari pemateri Kementerian Sosial (Kemensos) RI serta pembina Taruna Siaga Bencana (Tagana) di daerah itu. Kegiatan dipusatkan di Aula Kantor Camat Torue.
Setiap divisi KSB memperoleh pelatihan sesuai tugas dan fungsinya, mulai dari divisi logistik, posko, shelter, pertolongan pertama hingga dapur umum.
Pada hari terakhir, peserta diterjunkan dalam simulasi penanggulangan bencana untuk menguji kesiapan dan kemampuan menghadapi situasi darurat.
Simulasi meliputi pembuatan jalur evakuasi, penyisiran zona bahaya, pertolongan terhadap korban hingga proses evakuasi dan penyerahan korban.
Praktisi Kemensos RI, Yulius Arianto Daud, yang mewakili Direktur PSKB, mengatakan paradigma penanggulangan bencana perlu bergeser dari pola responsif menuju preventif melalui penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
“Kerawanan bencana yang cukup tinggi, mulai dari banjir sampai gempa bumi, membuat paradigma penanggulangan bencana harus diubah,” ujar Yulius.
Menurutnya, masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek aktif dalam penanggulangan bencana. Dengan demikian, warga tidak hanya menjadi penerima bantuan ketika bencana terjadi, tetapi mampu menyelamatkan diri sekaligus membantu orang lain.
Yulius mengatakan, KSB Torue juga akan diperkuat melalui pemetaan jalur evakuasi, penyiapan lumbung sosial, makanan dan logistik, serta peningkatan kapasitas masyarakat melalui sosialisasi dan pelatihan secara berkelanjutan.
“Kita membentuk garda terdepan, menyiapkan lumbung sosial, makanan dan logistik, serta memetakan jalur evakuasi yang diperlukan,” kata Yulius.
Ia menegaskan keberhasilan KSB tidak dapat berjalan sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, Dinas Sosial, BPBD, TNI/Polri, pemerintah kecamatan hingga pemerintah desa.
Yulius berharap KSB Kecamatan Torue dapat berkembang menjadi model kampung siaga yang aktif, mandiri dan berkelanjutan, sehingga keberadaannya tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Kami berharap KSB Kecamatan Torue ini menjadi model percontohan yang aktif, mandiri, berkelanjutan, dan bukan sekadar seremonial belaka,” ujarnya.
















