Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Pendidikan

Lomba Bertutur Jadi Upaya Parigi Moutong Rawat Tradisi di Tengah Era Digital

×

Lomba Bertutur Jadi Upaya Parigi Moutong Rawat Tradisi di Tengah Era Digital

Sebarkan artikel ini
Peserta Lomba Bertutur jenjang SD foto bersama usai pembukaan bersama Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, bersama jajaran, Juri, dan para guru. (Foto : Aswadin/PusatWarta.id).

Parigi Moutong, PUSATWARTA.ID – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Parigi Moutong menggelar Lomba Bertutur Tingkat SD/Sederajat se-Kabupaten Parigi Moutong sebagai upaya memperkuat budaya literasi sekaligus melestarikan tradisi lisan daerah di tengah derasnya arus digitalisasi.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa (10–11/8/2026), dipusatkan di Gedung Layanan Perpustakaan Parigi Moutong. Lomba tersebut digelar dalam rangka menyambut Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca 2026.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Parigi Moutong, Syamsu Nadjamuddin, mengatakan tradisi bertutur bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari warisan leluhur yang mengandung nilai edukasi sekaligus menjadi media penyampaian sejarah dan budaya.

Baca lainnya :  MTS Alkhairaat Parigi akan Gelar Silaturahmi Alumni ke-1

“Di era digitalisasi saat ini, budaya bertutur lisan rentan mengalami degradasi di lingkungan keluarga dan kerap hanya dijumpai pada acara adat tertentu,” ujar Syamsu dalam sambutannya, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, lomba bertutur menjadi salah satu cara untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut sekaligus melatih keberanian dan kemampuan literasi anak.

“Lewat lomba ini, kami ingin mengembalikan semangat literasi, melatih keberanian anak, dan mengenalkan mereka pada kekayaan budaya daerah,” ujarnya.

Syamsu mengatakan tantangan perpustakaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan minat baca, tetapi juga perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi.

Kemudahan akses informasi melalui gawai dan mesin pencari seperti Google kata dia, membuat masyarakat dapat memperoleh informasi dengan cepat. Namun, kondisi tersebut juga menuntut kemampuan untuk memilah informasi yang benar dan dapat dipercaya.

Baca lainnya :  Festival Literasi Warnai Peringatan Hari Anak Nasional di Parigi Moutong

“Saat ini gawai dan Google memudahkan siapa saja mengakses informasi dari mana saja. Namun tantangannya adalah bagaimana masyarakat, khususnya anak-anak, mampu memilah mana informasi yang benar dan menggunakannya secara bijak,” jelasnya.

Karena itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Parigi Moutong terus melakukan pembenahan melalui program berbasis inklusi sosial serta pengembangan layanan perpustakaan berbasis digital.

Melalui kegiatan tersebut, pemerintah daerah berharap lahir generasi muda yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu berpikir kritis, percaya diri, serta menjadikan buku sebagai sumber pengetahuan.

Baca lainnya :  Bunda PAUD Tekankan Peran Guru dan Orang Tua Bentuk Karakter Anak

Untuk membangun ekosistem literasi yang kuat, Syamsu menilai diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, sekolah, pihak swasta, pegiat literasi hingga masyarakat desa.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci dalam membangun budaya membaca yang berkelanjutan di Kabupaten Parigi Moutong.

Ia berharap Gedung Layanan Perpustakaan Parigi Moutong yang terus dibenahi dapat berkembang menjadi ruang edukasi, penelitian, pelestarian budaya dan rekreasi yang terbuka serta inklusif bagi masyarakat.

“Perpustakaan harus mampu mengikuti perkembangan zaman dan menjadi ruang yang relevan bagi masyarakat, khususnya generasi muda,” ujarnya.

Example 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *