
Parigi Moutong, PUSATWARTA.ID — Pemerintah Kota Palu mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan rumah dan lahan terbatas sebagai salah satu strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas inflasi daerah.
Upaya tersebut dilakukan melalui program Palu Mantap Pangan yang menyasar 46 kelurahan dengan pengembangan lima komoditas unggulan.
Pemerintah menargetkan setiap kelurahan mampu mengoptimalkan lahan produktif hingga satu hektare untuk satu komoditas prioritas.
Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, mengatakan pendekatan tersebut disesuaikan dengan karakter wilayah Palu yang bukan merupakan daerah pertanian maupun perkebunan.
“Karakter Kota Palu bukan wilayah pertanian atau perkebunan, dan masyarakatnya pada dasarnya bukan petani. Oleh karena itu, kita gunakan pola pendekatan pemanfaatan pekarangan terbatas, seperti ukuran 4×4 meter atau 5×5 meter, agar tetap bisa menghasilkan,” ujar Hadianto saat ditemui usai menghadiri Konkerkab PGRI ke-1 di Parigi, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pangan, tetapi juga memastikan ketersediaan komoditas di pasar berlangsung secara berkelanjutan.
Pemkot Palu berperan sebagai fasilitator dan mediator dengan menyediakan bibit, pupuk, serta pendampingan melalui tenaga penyuluh lapangan.
“Pemerintah juga tidak mengambil keuntungan finansial dari hasil panen masyarakat,” terangnya.
Hadianto mengatakan, jadwal tanam dan estimasi masa panen akan diintegrasikan sehingga produksi antarkelurahan dapat saling menopang. Dengan pola tersebut, pasokan komoditas di pasar diharapkan tidak mengalami kekosongan pada periode tertentu.
“Kita pastikan pasokan komoditas ke pasar stabil untuk memenuhi permintaan. Jangan sampai bulan ini suplai lancar, lalu bulan depan kosong. Ini penting untuk mengendalikan inflasi daerah,” tegasnya.
Selain menjaga kesinambungan pasokan, Pemkot Palu juga mendorong agar hasil produksi warga dapat dijual dengan harga kompetitif. Dukungan sarana produksi dan pendampingan yang diberikan pemerintah secara gratis diharapkan dapat menekan biaya produksi masyarakat.
Di sisi lain, kondisi lahan yang relatif kritis menjadi perhatian pemerintah. Untuk memastikan komoditas yang dikembangkan sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah, Pemkot Palu melakukan pemetaan kualitas tanah melalui soil test, termasuk menyesuaikan jenis tanaman dengan tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan air.
Hadianto menegaskan, penguatan pendampingan menjadi kunci agar program tersebut tidak berhenti pada kegiatan produksi semata, tetapi mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Pendampingan dari penyuluh akan terus kita perkuat agar program baru ini berjalan berkelanjutan dan masyarakat benar-benar merasakan manfaat ekonominya,” ujarnya.
















