
Parigi Moutog, PUSATWARTA.ID — Upaya mengurangi pemborosan pangan di Kabupaten Parigi Moutong tidak hanya menyasar kalangan pelajar. Dinas Ketahanan Pangan (DKP) juga mendorong keterlibatan rumah tangga sebagai salah satu kunci menekan makanan yang terbuang.
Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Parigi Moutong, Yuliani, S.P., mengatakan rumah tangga memiliki peran penting dalam menentukan pola konsumsi sekaligus mengelola kebutuhan pangan keluarga.
Hal itu disampaikan Yuliani saat Dinas Ketahanan Pangan Parigi Moutong menggelar sosialisasi gerakan B2SA dan “Stop Boros Pangan” di SDN Inpres Masigi, Jumat (4/9/2026).
Menurut Yuliani, edukasi kepada pelajar menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan mengonsumsi makanan secara bijak. Namun, perubahan perilaku juga perlu diperkuat dari lingkungan keluarga.
“Target ideal dari gerakan ini juga mencakup kelompok ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga memiliki peran sentral dalam mengelola kebutuhan dapur dan pola konsumsi keluarga,” ujar Yuliani.
Ia menjelaskan, makanan yang terbuang bukan hanya menunjukkan adanya pemborosan pangan, tetapi juga berkontribusi terhadap meningkatnya volume sampah organik.
Karena itu, gerakan Stop Boros Pangan dinilai memiliki dua manfaat sekaligus, yakni mendorong masyarakat lebih bijak dalam mengonsumsi pangan dan membantu mengurangi sampah yang berasal dari sisa makanan.
DKP Parigi Moutong berharap dukungan anggaran terhadap program tersebut dapat ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.
Dengan dukungan tersebut, sosialisasi diharapkan dapat diperluas hingga kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta masyarakat umum.
“Harapan kami anggaran untuk sosialisasi Stop Boros Pangan ini dapat terus bertambah. Ke depan, sasaran dapat diperluas ke kelompok PKK dan masyarakat umum sebagai penyedia utama pangan di tingkat rumah tangga,” tuturnya.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas gerakan pengurangan pemborosan pangan dari lingkungan sekolah hingga keluarga.
“Sehingga kesadaran untuk mengonsumsi dan mengelola pangan secara bijak menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat,” ujarnya.
















